4 Kisah Lucu Orang Samin



Suku Samin yang dominan bertempat tinggal di tempat hutan daerah Blora Jawa Tengah dan Bojonegoro Jawa Timur, dikenal hayati dengan sederhana, jujur dan sabar bahkan kadangkala terlihat lucu & lugu namun tetap sopan.

Kejujuran dan keluguan rakyat Samin sering disalahpahami sang rakyat umum. Nah berikut ini terdapat beberapa cerita berbasis kisah nyata yg tersebar di rakyat lebih kurang Blora, Jawa Tengah, yg mengeksplorasi keluguan dan kejujuran warga  samin.

1. Kisah pada Bus

Orang Samin pada masa lalu selalu bepergian menggunakan jalan kaki. Sejauh apa pun mereka akan jalan kaki. Pada suatu waktu terdapat orang Samin dari Blora yg ingin pergi ke Rembang.

Tentu saja itu adalah jeda yang jauh sekali jika ditempuh dengan jalan kaki. Ketika sampai pada jalan raya seorang kondektur bus jurusan Rembang menawari orang itu.

"Pak…Rembang nggih? (Pak ke rembang ya)," tanya kondektur.

"Nggih (ya)."

"Lha monggo nitih bis. (Silakan naik bis)."

"Oh…nggih… (Oh iya)"

Dia pun naik bus itu. Tidak lama   oleh kondektur mendatangi orang Samin itu buat menarik ongkos.

"Ongkosipun Pak? (Ongkosnya, Pak)."

"Ongkos menapa? (Ongkos apa?)"

"Ya ongkos nitih bis Pak. (Ya bayar buat naik bus, Pak)"

Karena bunyi kondektur keras, semua mata penumpang tertuju dalam mereka berdua.

"Njenengan ingkang nawani kulo nitih bis (Kan, tersebut Anda yang menawari aku  naik bis)."

"Tapi nggih tetep mbayar Pak (Tapi ya permanen membayar). "

"Kulo mboten gadah arto (Saya tidak punya uang)."

"Lek ngoten mandap mriki mawon (Kalau begitu, turun sini saja)."

"Nggih mboten nopo-nopo (Ya tidak apa-apa)."

Sang kondektur memberi aba-aba sopir buat berhenti. Orang Samin itu siap-siap turun, tiba-tiba terdapat seorang penumpang yg hendak membayari orang Samin itu. Meski demikian, si Samin menolak.

"Sekeca mlampah mawon, mboten wonten ingkang ngajak tukaran (lebih nyaman jalan kaki saja, tidak terdapat yang ngajak berantem)," kata si Samin sembari melangkahkan kaki turun menurut bus.

2. Melawan Belanda

Salah satu bentuk perlawanan kaum Samin dengan Belanda merupakan dengan mogok membayar pajak. Syahdan, ketika itu ada petugas pajak kebangsaan Belanda yg menagih pembayaran pajak. Namun orang-orang Samin menggunakan sangat cerdas melawan tanpa kekerasan.

Penagih pajak itu sesudah berbicara apa keperluannya, yakni menagih pembayaran pajak, datang-tiba orang Samin itu malah masuk rumah membawa sekantung uang dan sebuah cangkul.

Merasa terancam, petugas pajak Belanda menyiapkan senjata dan siap menembak. Namun betapa kagetnya sehabis melihat si Samin menggali sebuah lubang dan menanam uangnya di depan petugas Belanda itu.

"Bumi sing gawe Gusti Allah. Aku nandur neng bumi. Njupuk asile seko lemah. Dadi aku  ra perlu mbayar pajek neng pemerintah, nanging aku  mbayar pajek neng lemah. (Bumi itu buatan Allah. Saya menanam pada bumi, merogoh output bumi dari tanah, jadi nir perlu membayar pajak ke pemerintah namun membayar pajak ke tanah," kata si Samin.


Tiga. Menjaga Sawah

Ajaran Samin sejatinya merupakan kejujuran, nir mencuri, nir menebar permusuhan menggunakan semua makhluk hidup. Tak terkecuali burung-burung.

Suatu saat ada anak seseorang Samin disuruh menjaga padi di sawah oleh seseorang lain yang bukan menurut komunitas Samin. Ketika orang itu tiba & melihat padinya diserbu ratusan burung pipit & anak yang disuruh menjaga hanya membisu, maka dia marah besar .

"Aku ki mung dikongkon jaga sawah, ora dikongkon ngusir manuk. (Saya hanya disuruh menjaga sawah bukan mengusir burung)," kata si anak Samin.


4. Manjat Kelapa

Karena sangat akrab dengan alam, orang-orang Samin di masa kemudian tak pernah mau memetik buah apa pun sebelum jatuh. Termasuk butir kelapa, meski sejatinya butir kelapa itu telah layak dipetik.

Selain itu, mereka tak pernah menaruh prasangka pada orang lain, sehingga selalu siap membantu. Bahkan pada orang yg tidak dikenalnya, ia akan membantu. Kecuali satu hal, Mengganggu alam.

Suatu hari terdapat pedagang kelapa datang ke perkampungan Samin. Ia hendak membeli kelapa, tetapi nir ada. Maka, beliau menyuruh seorang anak Samin buat memetiknya supaya bisa dibeli.

"Kowe menek klapa ya. (engkau  manjat kelapa ya)," istilah si pedagang.

"Ora iso (nggak mampu)," jawab si anak samin.

"Lah apa (mengapa)?" tanya si pedagang.

"Klapa kok dipenek. Sing iso dipenek kuwi wit klapa (kelapa kok dipanjat. Yang bisa dipanjat itu pohon kelapa)," jawab si anak samin.

"Oh ngapurane ya. Ya wis tulung menek wit klapa (oh maaf ya. Ya udah sekarang tolong manjat pohon kelapa ya)," kata si pedagang.

Maka si anak Samin itu bergegas menuju ke sebatang pohon kelapa. Dengan cekatan dia memanjat ke atas. Melihat hal itu, si pedagang tersenyum.

"Sak jam maneh aku  mrene. Tak muter dhisik (Sejam lagi saya ke sini lagi. Saya mau keliling dulu)," kata si pedagang.

Satu jam lalu, si pedagang balik  ke loka semula. Ia heran tak terdapat kelapa yang telah dipetik. Si anak Samin jua tak kelihatan. Ternyata beliau sedang asyik tiduran pada pelepah daun kelapa yg relatif besar .

"Lah apa kowe neng kana? Kok ora ngopek klapa, ora mudhun? Kebangeten nemen goblogmu (Mengapa engkau  masih di situ tanpa memetik kelapa. Juga tidak turun? Kebangetan sekali ketololanmu)" teriak si pedagang.

"Aku mau kon menek wit klapa. Ora kon ngopek klapane. Aku kon menek njur mbok tinggal, ora dikongkon mudhun. Sing kebangeten ki sopo? (Saya tadi disuruh manjat pohon kelapa. Nggak disuruh memetik kelapanya. Juga nggak disuruh turun. Kalau seperti itu, yang kebangetan siapa?)" si anak menjawab.

0 Response to "4 Kisah Lucu Orang Samin"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2